Tampilkan postingan dengan label edisi 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edisi 1. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2009

THRESHER

BAB I. PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang hampir 65% penduduknya adalah petani, dimana berbagai komoditas pertanian banyak tumbuh dan berkembang, salah satunya merupakan komoditas utama dan komoditas politik Indonesia yang tidak dapat dipungkiri lagi keberadaanya yaitu padi. Padi merupakan makanan pokok hampir seluruh warga Negara Indonesia. Pemerintah akan goncang apabila harga beras naik dan melonjak oleh karena itu diperlukan kecermatan dalam penangananya untuk mencegah kelangkaan beras nasional salah satu waktu pemanenan karena pada waktu pemanenan biasanya banyak sekali padi yang terbuang.
Pascapanen di kab Karawang dan Subang, terungkap bahwa penggunaan power thresher (mesin perontok) berkapasitas 6-7 kw/jam mampu menyelamatkan hasil panen minimal 6 kwintal per hektar atau sekitar Rp 1,8 juta per hektar. Harga sewa power thresher adalah Rp 150.000 per ton gabah atau sekitar Rp 900.000 per hektar. Dengan demikian ada selisih keuntungan Rp 900.000 apabila petani melakukan perontokan menggunakan power thresher. Gabah yang dihasilkanpun lebih bagus kualitasnya. Sedangkan perontokan secara konvensional dengan cara digebot, umumnya dalam satu hektar terbagi dalam 60 gunduk perontokan yang 6-12 ton/hari. Penggunaan alsin pascapanen mampu menekan susut, menyelematkan hasil panen dan menambah pendapatan petani (Dr.Ir. Rokhani Hasbullah, MSi. 2007)
B. Tujuan
Adapun tujuan dipelajarinya thresher ini adalah agar mahasiswa:
1. Mengetahui bagian-bagian therser.
2. Mengetahui cara kerja thresher
3. Mempu menghitung dan merancang thresher sendiri
4. Mampu berinovasi untuk menciptakan alat-alat baru


BAB II. LANDASAN TEORI

A. Perontokan Padi
Berbagai upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan oleh pemerintah, namun demikian susut hasil selama pascapanen di daerah daerah sentra produksi selama dua dasawarsa terakhir masih tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik, angka kehilangan hasil mulai dari panen sampai penggilingan berkisar antara 12-20% dengan kontribusi susut karena perontokan lebih dari 4,8%. Sementara itu hasil pengamatan lembaga pangan Jepang pada tahun 1995 menunjukkan bahwa susut hasil setelah panen akibat pengangkutan ke tempat perontokan berkisar antara 1,4 - 8,2%.
Perontokan padi dilakukan petani dengan berbagai macam cara, antara lain diiles (ditarik) dipukul atau dihempas pada alat bamboo dan kayu dan cara yang lainya dengan mengunakan alat perontok (thresher).

B. Thresher Padi
Thresher merupakan suatu alat yang digunakan untuk melepas butiran-butiran gabah dari tangkainya sehingga dapat diproses menjadi beras.
1. Perinsip Kerja Thresher
a. Merontokan padi dengan melepas butiran-butiran gabah dari tangkai atau malai kemudian memisahkannya.
b. Pelepasan butiran gabah dari atas dasar tarikan, pukulan dan gesekan serta kombinasi dari masing-masing itu.
c. Bagian thresher yang berfungsi melepas butiran gabah adalah gigi perontok.

2. Macam-macam Thresher
a. Menurut Tenaga Penggerak dan Cara Kerjanya
Menurut tenaga penggerak dan cara kerjanya , thresher padi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1) Pedal thresher
Pedal thresher merupakan perontok yang digerakan oleh kaki operator. Pada saat perontokan padi dipegang, bagian malai diumpankan pada bagian atas silinder perontk yang berputar. Untuk menggerakan atau memutar silinder perontk, pedal dan as silinder perontok dapat dihubungkan dengan tiga cara yaitu:
a) System rantai atau gear speda (free whell) dan pegasnya menggunakan karet.
b) Mengunakan system engkol dan tanpa pegas dengan dengan pedal dan silinder perontok dihubungkan dengan tuas atau tangkai engkol dari besi kntruksi (besi beton)
c) System gear dan tanpa karet dimana pedal terhubung dengan gear melalui besi poros dan gear kedua langsung terhubung dangan ke silinder perontok.
Pada umumnya thresher tidak memiliki unit pemisah (separator ) maupun unit pembersih.










Gambar 1. Thresher Pedal Yang Telah Dimodifikasi

2) Power Thresher
Power thresher merupakan alat perontok yang digerkan oleh motor bakar atau motor listrik melalui system transmisi. Pengumpanan padi yang dirontkan dengan cara memegang tangkai padi bagian malai diletakan di bawah atau di atas silinder perontok atau dengan melepas padi keruang perontok.
Pada umumnya power thresher sudah dilengkapi dengan unit pembersih berupa saringan dan kipas penghembus untuk memisah tangkai atau jerami, daun dan gabah hasil perontokan.








Gambar 2. Thresher Dengan Tenaga Penggerak Mesin

3) Automatic Thresher
Automatis thresher merupakan alat perontok penggerak motor yang telah disempurnakan dengan menambah alat pengumpan otomatis berupa seperangkat alat yang terdiri dari rantai (penggerak pararel dengan silinder perontok), spring (pegas) dan rail (semacam batang logam yang menekan rantai).
Alat ini juga sering disebut axial flow thresher, dengan kecepatan perontokan relatif tetap dilihat dari segi pengumpanannya.







Gambar 3. Automatic Thresher Dengan Pengumpan
b. Menurut Cara Pengumpannya
menurut cara pengumpannya , thresher dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Bahan umpan dipegang
tangkai padi dipegang dan malai diletakan di atas silinder perontok (misalnya pedal thresher) dan diletakan di bawah silinder perontok (misalnya power thresher). Untuk memudahkan pengumpanan, pajang pemotongan padi (saat panen) agak dibawah, dan panjang dari tangkai minimal 50 cm.

2) Bahan umpan dilepas
Pengumpanan dilakukan dengan melepas padi dalam ruang perontok. Mengingat cara pegumpaannya, maka diusahakan agar panjang jerami sependek mungkin, karena panjang jerami akan mempegaruhi kapasitas perontokan.

c. Menurut pemisahan hasil perontokan
Menurut pemisahan hasil perontokan thresher dibedakanmenjadi tiga yaitu:
1. perontokan dengan tangan (hand chaff disposing type)
2. perontokan dengan sendirinya (self chaff disposing type)
3. pemisahan automatic (automatic chaff disposing type)











BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Prosedur
Kegiatan praktek identifikasi thresher dilakukan setelah menerima materi kuliah Alat Mesin II tentang cara membuat thresher, pengoprasian mesin dan teknik-teknik pengerjaan lainnya secara terbimbing.

Keberhasilan praktek dapat tercapai apabila ada kerja sama yang baik dari berbagai pihak, baik dari mahsiswa, dosen pembimbing serta teknisi praktek yang bertugas menyiapkan peralatan dan bahan praktek. Setelah itu tingkat kedisiplinan dan keterampilan yang tinggi dari pembim-bing dan teknisi akan mendukung terciptanya hasil praktek yang diharapkan. Langkah kegiatan praktek identifikasi thesher ini meliputi:
1. Persiapan peralatan
Sebelum melakukan praktek identifikasi thresher pertama-tama kita harus menyiapkan peralatan dan mesin yang akan kita gunakan di lapangan pada saat identifikasi thresher berlangsung. Adapun peralatan yang digunakan dalam identifikasi thresher adalah :
a. Kunci ring pas
b. Meteran
c. Tang
d. Obeng
e. Sapu (koas)

2. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan praktek di bengkel kerja sama antar kelompok yang baik akan mempermudah dan mempercepat waktu pelaksanaan identifikasi. Adapaun langkah-langkah identifikasi thresher adalah sebgai berikut:
a. Membuka rumah drum (conver)
Dalam membuka rumah drum ada tahapan-tahapan yang harus dilalui diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Lepas pengikat penutup drum
2) Lalu angkat keatas
3) Usahakan penutup jangan sampai menutup sendiri sebelum kita tutup

b. Membuka drum thresher
Langkah-langkah membuka drum thresher diantaranyaadalah sebagaui berikut:
1) Siapkan kunci ring pas 21 dua buah, untuk membuka baut dan mur pengikat poros durum
2) Paskan kunci, setelah pas buka baut dengan hentakan
3) Setelah baut pegikat poros terbuka , angkat durum thresher
4) Letakan ditampat yang cukup lapang untuk pelaksanaan identifikasi

c. Mengukur jarak antar gigi (spike)
Langkah-langkah mengukur spike thresher adapun jarak gigi yang diukur adalah sebgai berikut:
1) Ukur panjang gigi dengan meteran
2) Ukur lebar gigi
3) Ukur jaraj antar gigi yang satu dengan gigi yang lain
4) Ukur jarak antara gigi kedua dengan gigi ketiga (yang berada di tengah)
5) Ukur panjang drum
6) Ukur lebar efektif
7) Ukur diameter drum

d. Mengukur gigi stasioner
Setelah melepas drum dari dudukan rumah thresher maka kita dapat mengukur stasioner. Adapun langkah-langkah dalam pengukuran stasioner adalah sebagai berikut:
1) Siapkan meteran
2) Ukur panjang stasioner sampai ujur pengeluaran
3) Ukur lebar dan pangjang gigi stasioner
4) Ukur kerenggangan antara gigi stasioner dengan gigi di drum thresher
5) Ukur jarak dari gigi terakhir ke ujung rumah thresher.

e. Perakita
Perakitan adalah suatu kegiatan yang biasanya cukup melelahkan karena biasanya kita sudah lelah dengan identifikasi dan kerja. Langkah langkah perakitan drum adalah sebgai berikut:
1) Pasang kembali drum thresher dengan menggunakan mengangkatnya keatas dudukan dan menguncinya kembali dengan baut 21 kanan dan kirinya.
2) Penguncian harus kencang untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat lepanya drum.
3) Tutup rumah stasioner setelah drum thresher dipasang tutup penutup drum untuk mencegas pemampaatan thresher sebagai sarang oleh hewan pengerat dan menyengat.











Gambar 4. Speak Thresher







B. Hasil
1. Identifikasi thresher
a. Fungsi thresher
Perontok padi (thresher) adalah suatu alat perntokan padi yang di desain dengan cara mekanis maupun manual yang berfusi untuk merontokan padi, menguragi kehilangan dan mempertahankan kualitas padi sehingga tidak terjadi kerusakan setelah panen.

b. Mengetahui cara kerja thresher
Cara kerja thresher sangat simple dan mudah akan tetapi dalam perancangan thresher sangatlah rumit dan jlimet. Prinsip adalah memukul padi yang diumpanakan pada gigi-gigi yang dipasang di drum thresher.

c. Mengetahui ukuran-ukuran
Pada dasarnya komponen inti thresher sangatlah sedikit dan mudah untuk diingat seperti drum, satasioner dan poros penggerak pengumpan dan yang lainnya adalah pelengkap untuk penutup chasis sehingga untuk ukurannya mudah di ingat. Ukuran-ukuran thresher bisa disesuaikan dengan keperluan pengguna.

d. Mengetahui cara pperancangan thresher secara umum
Merancang merupakan suatu kegiatan membuat desain sebuah alat yang akan kita kerjakan, proses perancangan tergolong sangat sulit karena membutuhkan pemikiran dan perhitungan akan rumus-rumus. Berbeda dengan langsung membuat thresher karena membuat theresher bisa sambil mencontek yang sudah ada tanpa perlu mendesain kemudian kita kerjakan ulang. Yang paling mahal dari perancangan adalah ide awal karena dalam membuat rancangan mesin baru ide awal kita atau inovasi kita akan dan harus dibayar mahal.




BAB IV. KESIMPULAN

Dari hasil praktek diatas dapat saya simpulkan bahwa; thresher adalah salah satu alat pasca panen yang sangat membantu sekali dalam masalah perontokan padi karena dapat menekan kehilangan, dapat mempertahankan kualitas dan dapat meningkatkan kinerja petani menjadi lebih efektif dan efisien.
Thresher sudah banyak digunkan akan tetapi masih kurang efektif karena antara gabah dan kotoran masih tercampur dan hasil cleningnyapun masih kurang bersih leh karena itu masih perlu dilakukan modifikasi untuk menhasilkan thresher yang sesuai dengan kebutuhan.


Continue Reading...

KTI GW

MODFIKASI POWER WEEDER


BAB I. LATAR BELAKANG

A. Latar Belakang
Dalam rangka meningkatkan dan melestarikan suasembada beras yang telah dicapai pada tahun 1984. Pemerintah Indonesia telah berupaya menyebarluaskan informasi tentang cara pengolahan dan perawatan Padi untuk peningkatan hasil panen. Salah satunya adalah dengan meningkatkan penanganan pra-panen.

Pra-panen merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan hasil panen. Salah satu kegiatan pra-panen yang harus diperhatiakan adalah penyiangan. Penyiangan merupakan suatu kegiatan mencabut rumput-rumput (gulma) yang berada di antara sela-sela padi dan sekaligus menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada saat Padi berumur 3 dan 6 minggu.

Menurut “Harjono. 30 desember 2007” Kerugian hasil panen padi oleh gulma dapat mencapai 36 %, dan pengendalian gulma yang efektif dapat meningkatkan produksi gabah sampai 1,8 ton/ha. Pengendalian gulma tanaman padi sawah dengan tangan membutuhkan waktu 172 jam/ha dan penyiangan dengan landak membujur melintang 132 jam/ha.

Penggunaan alat penyiang system manual seperti landak membujur dan tangan mempunyai banyak sekali kekurangan, baik dilihat dari segi kinerja dan efisiensi alat karena itu perlu dibuat suatu terobosan teknologi yang dapat membantu memecahakan permasalahan penyiangan dan dapat diterima oleh petani. Alat penyiang bertenaga motor (power weeder) dengan desain yang telah disesuaikan untuk daerah-daerah di Indonesia yang berpetak sempit merupakan salah satu jawaban sehingga diharapakan dapat meningkatkan kinerja petani supaya lebih efektif dan efisien dibandingkan penyiangan dengan cara manual (landak), pacul kecil dan tangan.


B. Permasalahan
Adapun permasalahan dari power weeder ini adalah:
Power weeder yang ada tidak sesuai di Indonesia, karena lahan di Indonesia berpetak kecil dan sempit, sehingga power weeder dengan bobot yang berat dan ukuran besar tidak dapat dioperasikan.
Penyiangan secara manual (menggunakan landak/ tangan) kurang efektif dan efisien.

C. Tujuan
Adapun tujuan modifikasi power weeder ini adalah untuk:
1. Memodifikasi power weeder menjadi lebih sederhana agar bisa diterapkan di Indonesia
2. Meningakatkan kapasitas dibandingakan dengan cara manual
3. Meningkatkan kapasitas kerja

D. Manfaat
Adapun manfaat mesin dari pembuatan power weeder ini adalah:
1. Mempermudah kerja petani
2. Menyuburkan tanaman karena menggemburkan tanah












BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Hakekat Padi.
Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim Graminae atau lumiflorae) dan merupakan tanaman berakar serabut, daun berbentuk lanset (sempit memanjang), urat daun sejajar, memiliki pelepah daun, bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga berupa loret, floret tersusun dalam spikelet, khusus untuk padi satu spikelet hanya memiliki satu floret, buah dan biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (Ing. grain) atau kariopsis.

Pada dasarnya Padi merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

Di indonesia padi juga merupakan komoditas utama yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyrakat Indonesia baik dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Pada tahun 1984 Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras.

1. Varietas Padi
Terdapat dua spesies padi yang dibudidayakan manusia: Oryza sativa yang berasal dari daerah hulu sungai di kaki Pegunungan Himalaya (India dan Tibet/Tiongkok) dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat (hulu Sungai Niger).

O. Sativa terdiri dari dua varietas, indica dan japonica (sinonim sinica). Varietas japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, paleanya memiliki “bulu” (Ing. awn), bijinya cenderung panjang. Varietas indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, paleanya tidak ber-”bulu” atau hanya pendek saja, dan biji cenderung oval. Walaupun kedua varietas dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar IR8, yang merupakan hasil seleksi dari persilangan varietas japonica (kultivar ‘Deegeowoogen’ dari Formosa dan varietas indica (kultivar ‘Peta’ dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal pula sekelompok padi yang tergolong varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua varietas utama di atas.

Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa. Budidaya padi yang telah berlangsung lama telah menghasilkan berbagai macam jenis padi akibat seleksi dan pemuliaan yang dilakukan orang diantaranya:
a. Padi Pera
Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya.
b. Ketan
Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat.
c. Padi Wangi
Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras ‘Cianjur Pandanwangi’ (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan ‘rajalele’. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.
d. Padi Gogo
Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.
e. Padi Rawa
Padi rawa atau padi pasang surut dikembangkan oleh masyarakat yang tinggal di rawa-rawa Kalimantan. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti ayunan kedalaman air.
Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar ‘IR5′ dan ‘IR8′, yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki ‘darah’ kedua kultivar perintis tadi.
B. Penganan Pra-Panen
Penanganan Pra-panen merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan hasil panen. Banyak sekali kegiatan prapenen baik yang dilaksanakan rutin maupun tidak seperti pengolahan tanah (penggaruan, dan pembajakan penanaman dilanjutkan dengan penanaman, pemupukan, penyiangan dan penyemprotan pestisida guna pencegahan dan pemusnahan hama penyakit.

Salah satu kegiatan pra-panen yang harus diperhatiakan adalah penyiangan. Penyiangan merupakan suatu kegiatan mencabut rumput-rumput (gulma) yang berada di antara sela-sela padi dan sekaligus menggemburkan tanah. Penyiangan dilakukan dua kali yaitu pada saat Padi berumur 3 dan 6 minggu guna menjaga dan mencegah agar ketersedian air dan makanaan yang seharusnya diserap oleh padi diambil oleh gulma yang dapat menyebabkan kurusnya padi karena kekuarnan air dan ususr-unsur lainnya.

Proses penyiangan cukup sulit karena pencabutan rumpput yang berada diselah-selah padi perlu keterampilan tertentu agar tidak merusak dan mepenggunaan tenaga manusia dan hewan memerlukan waktu lama sehingga proses penyiangan sering tertundan, terutama pada daerah yang jarang penduduknya. Peralatan mekanis yang digerakkan oleh tenaga motor seperti traktor tangan sangat diperlukan untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja serta mengurangi biaya dan waktu. Penambahan peralatan Sweep Cultivator (alat penyiang) di depan traktor tangan diharapkan dapat menambah fungsi traktor sebagai mesin penyiang di samping untuk pengolahan tanah. Pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama berupa penelitian pendahuluan untuk menguji rancangan alat penyiang sampai mendapatkan kelayakan teknis alat penyiang yang dilaksan

C. Power Weeder
Power Weeder berfungsi untuk mencabut atau membenamkan rumput (gulma) yang tumbuh diantara alur tanaman padi sawah, tanpa merusak tanaman padi atau menurunkan produksi. Penyiangan secara manual memerlukan curahan tenaga kerja yang besar yaitu 50 – 80 jam/ha. Mesin penyiang bermotor ini mempunyai kapasitas kerja 15 – 27 jam/ha. Dari data pengamatan dan penghitungan di lapangan diperoleh hasil efisiensi penyiangan rata - rata sebesar 80%. Alat tersebut dapat mengatasi masalah penyiangan di daerah yang kekurangan tenaga kerja, khususnya di luar jawa, namun kendala yang dihadapi adalah jarak tanam yang tidak pasti dan baris tanam tidak lurus.

1. Macam-macam Power Weeder
Ada berbagai macam terkonogi penyiangan gulma (power weeder) yang telah dibuat diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Power weeder untuk tanah basah
Mesin penyiang ini hanya dapat dioperasikan untuk penyiangan gulma pada tanah yang basah. pada jarak tanam 20 – 25 cm dengan baris yang lurus dengan kedalaman air sekitar 5-10 cm sehingga mesin dapat berjalan tanpa didorong.

b. Power weeder untuk tanah kering
Mesin jenis ini dapat dioprasikan untuk pencabut rumput liar. pada tanah kering dengan menggunakan mesin diesel 8.38 hp kekuatan mesin diteruskan ke roda tanah melalui v puli pita-mesin. mesin pencabut rumput liar berputar terdiri dari tiga baris piringan berjajar dengan 6 jumlah pisau yang lentur berlawanan arah sebagai alternatif pada setiap piringan. Pisau ini bila berputar mengaktifkan pemotong dan menggemburkan tanah.

Continue Reading...

lapran las asetilin

BAB I. PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Penyanmbuangn logam sudah ada sejak 5000 th yang lalu, orang sudah dapat melakukan penyambungan logam dengan cara memanasi dua buah logam tersebut sampai suhu kritis kemudian keduanya ditumpangkan dan setelah itu dipalu yang akhirnya membentuk ikatan yang kuat.
Api pemanasnya untuk penymbungan diperoleh dari pembakaran kayu atau arang kayu. Dapat dibayangkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu yang dapat memasakan logam sampai suhu kritis. tentu cara semacam ini tidaklah efektif untuk digunakan dalam pengerjaan pengelasan yang sangat banyak dan berfariasi.
Seiring dengan kemajun jaman dan perkembangan teknologi penyambungan degan mengunakan api dari kayu tidak digunakan lagi karena kurang efektif dan efisien dan telah ditemukan bahan pembakar yang jauh lebih mudah dan sederana yaitu dengan mengunakan gas da telah terbukti bahwa proses penmbungan dengan mengunakan gas lebih efektif dan efisien.

B. Tujuan
Adapun tujuan di laksanakannya praktek pengelasan ini adalah agar mahasiswa:
1. Dapat menghidupkan dan mengatur nyala api las
2. Megetahui macam-macam kampuh
3. Dapat melakukan penyambungan logam dengan baik dan benar




BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengelasan
Mengelas adalah salah satu cara menyambung dua bagian logam atau lebih dengan jalan memanaskan bagian logam yang akan disambung beserta bahan tambahnya (bila menggunakan) sampai cair kemudian keduanya dipadukan sehingga dapat bercampur satu dengan yang lain, dan setelah dingin sambungan kuat menyatu.

Pengelasan dengan oksigen – asetilin adalah proses pengelasan secara
manual dengan pemanasan permukaan logam yang akan dilas atau
disambung sampai mencair oleh nyala gas asetilin melalui pembakaran C2H2
dengan gas O2 dengan atau tanpa logam pengisi.

Proses penyambungan dapat dilakukan dengan tekanan (ditekan), sangat tinggi sehingga
dapat mencairkan logam. untuk memperoleh nyala pembakaran yang baik perlu pengaturan campuran gas yang dibakar. Jika jumlah gas O2 di tambah maka akan.
dihasilkan suhu yang sangat tinggi, lebih tinggi dari pada suhu lebur baja
atau metal lainnya sehingga dalam waktu sekejap mampu mencairkan
logam tersebut yang cukup tebal.

Pemakaian jenis las ini misalnya untuk keperluan pengelasan produksi, kerja lapangan dan reparasi. Umumnya las asetilin sangat baik untuk mengelas baja karbon, terutama yang berbentuk lembaran-lembaran dan pipa berdinding tipis. Pada umumnya semua jenis logam fero dan non fero dapat dilas dengan las jenis lain, baik dengan fluks maupun tanpa fluks.

B. Peralatan Las Asetilin
Untuk dapat mengelas atau memotong ataupun memanfaatkan fungsinya dengan optimal dari proses las gas maka diperlukan peralatan yang dapat menunjang fungsi-fungsi itu. Secara umum, peralatan yang digunakan dalam gas ini adalah :
1. Tabung gas Oksigen dan tabung gas bahan bakar
Tabung gas berfungsi untuk menampung gas atau gas cair dalam kondisi bertekanan. Umumnya tabung gas dibuat dari Baja, tetapi sekarang ini sudah banyak tabung-tabung gas yang terbuat dari paduan Alumunium. Tabung gas tersedia dalam bentuk beragam mulai berukuran kecil hingga besar. Ukuran tabung ini dibuat berbeda karena disesuaikan dengan kapasitas daya tampung gas dan juga jenis gas yang ditampung. Untuk membedakan tabung gas apakah didalamnya berisi gas Oksigen, Asetilen atau gas lainya dapat dilihat dari kode warna yang ada pada tabung itu.
Table1. Kode Warna Tabung Gas Untuk Berbagai Jenis Warna










Gambar 1. Warna Tabung Gas


2. Katup silinder/tabung
Pengatur keluarnya gas dari dalam tabung maka digunakan katup. Katup ini ditempatkan tepat dibagian atas dari tabung. Pada tabung gas Oksigen, katup biasanya dibuat dari material Kuningan, sedangkan untuk tabung gas Asetilen, katup ini terbuat dari material baja.










Gambar 2. Katup Silinder

3. Regulator
Regulator atau lebih tepat dikatakan Katup Penutun Tekan, dipasang pada katub tabung dengan tujuan untuk mengurangi atau menurunkan tekann hingga mencapai tekana kerja torch. Regulator ini juga berperan untuk mempertahankan besarnya tekanan kerja selama proses pengelasan atau pemotongan. Bahkan jika tekanan dalam tabung menurun, tekana kerja harus dipertahankan tetap oleh regulator.








Gambar 3. Regulator Tekanan Isi dan Tekanan Kerja
Pada regulator terdapat bagian-bagian seperti saluran masuk, katup pengaturan tekan kerja, katup pengaman, alat pengukuran tekanan tabung, alat pengukuran tekanan kerja dan katup pengatur keluar gas menuju selang

4. Selang Gas
Untuk mengalirkan gas yang keluar dari tabung menuju torch digunakan selang gas. Untuk memenuhi persyaratan keamanan, selang harus mampu menahan tekan kerja dan tidak mudah bocor. Dalam pemakaiannya, selang dibedakan berdasarkan jenis gas yang dialirkan. Untuk memudahkan bagimana membedakan selang Oksigen dan selang Asetilen mak cukup memperhatikan kode warna pada selang. Berikut ini diperlihatkan table yang berisi informasi tentang perbedaan warna untuk membedakan jenis gas yang mengalir dalam selang.

Tablel 2. tanda-tanda keselamatan kerja









5. Torch
Gas dialirkan melalui selang selanjutnya diteruskan oleh torch, tercampur didalamnya dan akhirnya pada ujuang nosel terbentuk nyala api. Dari keterangan diatas, toch memiliki dua fungsi yaitu :
- Sebagai pencampur gas oksigen dan gas bahan baker
- Sebagai pembentuk nyala api di ujung nosel
a. Torch dapat dapat dibagi menjadi beberapa jenis menurut klasifikasi berikut:
1) Menurut cara /jalannya gas masuk keruang pencampur dibedakan atas:
a) Injector torch (tekanan rendah) Pada torch jenis ini, tekanan gas bahan bakar selalu dibuat lebih rendah dari tekanan gas oksigen.
b) Equal pressure torch (torch bertekanan sama) pada torch ini, tekanan gas oksigen dan tekanan gas bahan bakar pada sisi saluran masuk sama besar.proses pencampuran kedua gas dalam ruang pencampur berlangsung dalam tekanan yang sama.

2) Menurut ukuran dan berat. Dibedakan atas
a) Toch normal
b) Torch ringan/kecil

3) Menurut jumlah saluran nyala api. Dibedakan atas
a) Torch nyala api tunggal
b) Torch nyala api jamak

4) Menurut gas yang digunakan. Dibedakan atas
a) Torch untuk gas asetilen
b) Torch untuk gas hydrogen, dan lain-lain.

5) Menurut aplikasi. Dibedakan atas
a) Torch manual
b) Torch otomatik/semi otomatik



Gambar 4. Torch (pembakar)
6. Peralatan pengaman (safety)
Peralatan pengaman merupakan peralatan yang wajib digunakan untuk menjaga keselamatan dan keamanan pekrja dari bahaya yang akan mengancam keselamatan dan jiwa mereka. Ada banyak sekali peralatan yang wajib digunakan oleh pekerja diantaranya adlah sebagai berikut:
a. Pakaian/baju las
Pakaian las merupakan alat pengaman yang berfungsi untuk melindungi badan dari percikan terak dan bunga api pengelasan.






Gambar 5. Pakaian Las dan Apron

b. Sarungt tangan
Sarung tangan merpukan peralatan kerja las yang berfungsi untuk melindungi tangan dari panasnya api las dan untuk memegang benda kerja yang telah dilakukan pengelasan.





Gambar 6. Sarung Tangan

c. Apron
Apron meruapakan alat keselamatan kerja yang berbentuk kain yang dipasang di dada yang berfungsi melindungi dada dan badan dari perciakan terak dan bunga api serta sinar api las yang akan membahayakan badan (organ dalam) pekerja.

d. Sepatu las
Sepatu las merupakan peralatan pengaman yang sangat penting dalam keselamatan kerja karena dapat melindungi keki dari benda-benda tajam yang jatuh ataupun terinjak oleh kaki pekerja.





Gambar 7. Sepatu Las

e. Kaca mata las
Kaca mat alas merupakan peralatn yang sangat penting karena alat tersebet berfungsi melindungi indra pegelihatan manusia yaitu mata dimana mata taktergantikan dan apabila sampai terjadi kecacatan maka peyesalanlah yang akan terjadi.








Gambar 8. kaca Mata Las


C. Teknik Pengelasan
Dalam mengelas sebaiknya pekerja atau operator mengetahui teknik dan cara pengelasan yang baik dan benar seperti mengetahui cara mengatur nyala api dan mengetahui macam- macam kampuh dalam pengelasan untuk mempermudah proses penyabungan dan memperkuat hasil sambungan.
1. Nyala Api
Nyala api adalah api yang keluar pada saat kita melakukan pengelasan, baik buruknya penyambugan maupun pemotongan itu sangat bergantung pada nyala api yang digunakan untuk aktivitas tersebut. Jika kita atur aliran gas oksigen dan asetilen maka kita akan dapati kualitas nyala api yang berbeda seperti:
a. Nyala Api Netral
Nayala pai netral merupakan ynala api dimana pencampuran gas oksegen dan asetilin bisa seimbang dan merata sehingga didapat nyala api yang putih dan tajam.

Gambar 9. Nyala Api Netral
Kegunaan dari nyala api netral ini untuk heat treatment logam agar mengalami surface hardening. Nyala api kerucut dalam berwarna putih menyala. Nyala api kerucut antara tidak ada. Nyala api kerucut luar berwarna kuning.
b. Nyala Api Oksidasi
Nyala api oksidasi adalah keadaan dimana campuran gas oksigen lebih banyk dari pada gas asetilin sehingga nyala api akan cenderung kebiruan sehingga pemebakaran cenderung lama.

Gamabr 10. nyala api oksidasi
Nyala api ini sering digunakan untuk pengelasan logam perunggu dan kuningan. Setelah dicapai nyala api netral kemudian kita kurangi aliran gas asetilen maka kita akan dapatkan nyala api oksigen lebih. Nyala apinya pendek dan berwarna ungu, nyala kerucut luarnya juga pendek.
c. Nyala Api Carburasi
Nyala api karburansi adalah keadaan dimana kandungan gas asetilin lebih banyak dari gas oksigen sehingga akan menghasilkan nyala api yang merah dan berasap.


Gambar 11. Nyala api netral
Setelah dicapai nyala api netral kemudian kita mengurangi aliran gas oksigen. Nyala api menampakkan kerucut api dalam dan antara. Nyala api luar berwarna biru.
2. Kampuh las
kampuh las merupakan dasar dan bentuk landasan bahan pengisi yang akan merekatkan bagian satu dengan bagian yang lainnya sehingga terbentuk satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ada beberapa macam kampuh las yang sering dan baik digunakan untuk penymbungan diantaranya adalah sebgai berikut:
a. Kampuh tepi
b. Kampuh i
c. Kampuh t
d. Kampuh v
e. Kampuh k
f. Kampuh x
g. Kampuh u

Sebelum mengelas, perlu dipersiapkan bagian yang akan dilas agar diperoleh sambungan yang baik dan kuat. Bentuk kampuh disesuaikan dengan:
- tebal benda kerja
- posisi pengelasan
- bahan yang dilas
- kekuatan yang diinginkan







BAB III. PEMBAHASAN



A. Prosedur
Dalam pengelsan ada beberapa hal yang harus dipersiapkan diantanya adalah sebagai berikut:
1. Bahan dan alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktek pengelasan asetilin ini diantaranya adalah:
a. Besi pipa diameter 20 mm
b. Besi plat 0.2 mm
c. Tang
d. Las asetilin
e. Kawat las (besi dan tembaga)

2. Persipan pengaman
Dalam pengelasan harus selalu memperhatiakan keselamatan kerja, adapun peralatan keamanan yang kami gunakan pada waktu praktek pengelasan adalah sebgai berikut:
a. Kaca mat alas
b. Baju peraktek
c. Sarung tangan

3. Pelaksanaan
Praktek pengelasan adlah suatu kegiatan dimana pekrja menyambung dua duah benda menjadi satu kesatuan untuk tujuan tertentu. Adapun kegiatan pelaksanan pengelasan adalah sebagai berikut:
a. Membuka penutup gas
Sebelum mengelas terlebih dahulu kita harus membuka tabung las agar gas bisa keluar pada selang penyalur yang akan disalurkan ke belender untuk diatur. Caranya adalah putar kunci kekiri dan baun pengunci kendor.

b. Mengatur regulator
Setelah gas asetilin dan ksigen di buka maka atur pengeluaran gas, dengan cara memutar rgulator tekanan kerja. Atur regulat rtekanan kerja dengan tekanan 50 untuk oksigen dan 5 untuk asetilin.

c. Menyalakan api las
Selanjutnya atur gas yang akan diapakai untuk menhasilkan api. Gas yang dikeluarkan pada blender akan menentukan api yang dihasilakan baik carbulasi, ksidasi, mapun netral semuanya bisa diatur sesuai dengan kebutuhan.

d. Memulai pengelasan
Setelah semuanya diatur dan api telah dinyalakan maka sambunglah benda kerja yang telh dipotong sesuai dengan operation plan (OP) yang telah dibuat. Adapun tahapan pembuatan serok adalah sebagi berikut:
1) Siapakan bahan yang akan dilas
2) Nyalakan api las sesuai kebutuhan
3) Lakukan pengelasan
4) Pertaman ikat dengan meniti-nitik dengan las plat pinggir serok yang telah diptong dengan alasnya
5) Setelah terikat las tik juga bagian belakang serok dengan rapi dan ikat pemegang serok dengan tik juga.
6) Setelah semuanya terikat rapihakan dengan mengelas ulang seluruh pinggir serok sampai benar-benar tertutup dan rapi
7) Untuk bagian pemegang las dengan mengunakan tembaga dengan cara panaskan benda kerja kemudian kawat tembaga yang akan di lelehakan dicelupakan terlebih dahulu pada borak supaya kawat temabga bisa menempel. Seteh di celupakan panaskan kawat diatas benda kerja sapai sambungan benda kerja tertutupi oleh tembaga.
8) Setelah semua tertutupi angkat bender las dan kecilkan gas oksigen selanutnya matikan gas asetilin
9) Pengelasan selesai rapihakan semua peralatan pada tempatnya semula.

B. Hasil
Adapun hasil praktek las asetilin ini adalah mahasiswa manjadi mampu dan mengerti bagai mana cara mengelas yang baik dan benar dan mengenatahui tentang pentingnya menjaga keselamatan dan keamanan saat bekerjaa. Sertam mahasiswa telah berhasil membuat suatu produsk yang mungkin akan berguna untuk pekerjaan yang lain di bengkel tempat praktek tersebut.

Gamabr 12. Gamabar Serok Untuk Pengambilan Beram







BAB IV. KESIMPULAN



Dari hasil praktek diatas dapat saya simpulakan bahwa pengelsan dengan menggunakan las asetilin dapat lebih cepat dibandingkan dengan mengunakan system pemansaan kayu. System pemanasan kayu menghasilkan smabungan yang kurang kuat dan lebih lemah dibandingkan dengan mengunakan gas.
Continue Reading...
 

Blogroll

Site Info

Text

HIDUP ADALAH TANTANGAN Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template